MEMBACA BISA MENINGKATKAN KERJA AKTIF OTAK ANAK
(Esti D Fatmawati,AMd,S.Pd)
Dahsyatnya perkembangan otak anak usia dini

Bila dibandingkan dengan negara tetangga, Indonesia masih
menduduki peringkat rendah dalam hal budaya membaca. Hal ini tidaklah
mengherankan, karena masih banyak masyarakat kita yang belum sadar akan
pentingnya membaca. Tetapi belum ada kata terlambat, kita masih bisa
memulainya, dengan membantu anak kita untuk menumbuhkan minat membaca sejak
anak usia dini.
Pada
usia dini , yaitu rentang usia 0-6 tahun, terjadi proses perkembangan otak anak
yang dahsyat. Ketika seorang anak telahir di dunia ini, pertumbuhan otaknya
sudah 25%, ketika mereka berusia 18 bulan sudah mencapai 50% dan di saat mereka
berusia 6 tahun pertumbuhan otak anak mencapai 90% dan mencapai ukuran maksimal
ketika berusia 18 tahun yaitu sudah mencapai 100%.
Pertumbuhan
otak ini seiring juga dengan perkembangan intelektual anak. 50% kemampuan
intelektual anak berkembang saat lahir sampai umur 4 tahun, menurun menjadi 30%
dalam rentang usia 4 sampai 8 tahun, dan ketika mereka berusia 8 sampai 18
tahun semakin menurun menjadi 20%. Betapa sayangnya jika usia-usia emas (golden
age) seorang anak berlalu begitu saja tanpa mendapatkan sesuatu yang berarti.
Padahal membentuk kebiasaan di usia ini jauh lebih mudah dibanding usia
sesudahnya.
Unggul
dalam Matematika dan Bahasa Inggris

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh institusi pendidikan di
Universitas London menyatakan bahwa anak-anak yang senang membaca cenderung
lebih baik dalam menguasai Matematika dan Bahasa Inggris ketimbang anak-anak
yang tidak suka membaca. Penelitian yang dilakukan terhadap 6000 anak ini juga
menyimpulkan bahwa penguasaan kosakata yang diperoleh anak melalui aktivitas
membaca akan membantu anak dalam menyerap informasi pada kurikulum pembelajaran
di sekolahnya.
Berdasarkan
data lembaga survei The 1970 British Cohort Study bahwa sebanyak 14,4%
anak-anak yang gemar membaca mampu menguasai matematika dan memiliki nilai
matematika yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak yang tidak suka
membaca. Sementara 9,9% lebih mudah untuk memahami kosa kata sehingga anak akan
mudah dalam menyerap dan memahami informasi baru.
Penanggung
jawab dari penelitian ini, Dr Alice Sullivan, mengemukakan hal senada yaitu ada
kemungkinan bahwa kemampuan membaca yang kuat akan memungkinkan anak-anak mampu
menyerap dan memahami informasi baru. Hal ini akan mempengaruhi pencapaian
mereka dalam semua mata pelajaran di sekolah. Jadi anak-anak bukan hanya unggul
di Matematika dan Bahasa Inggris saja, melainkan juga dapat unggul di semua
mata pelajaran sekolah.
Gemar
membaca ≠ bisa membaca

Sebuah studi yang diterbitkan dalam the journal Research in Social
Stratification and Mobility menemukan bahwa anak-anak yang terbiasa untuk
membaca buku di rumah akan memiliki nilai akademis lebih baik di sekolahnya daripada
anak-anak yang tidak suka membaca buku. Bahkan dari studi ini pula ditemukan
bahwa korelasi buku agar anak tumbuh menjadi anak yang berprestasi ternyata
lebih kuat dari pada latar belakang pendidikan atau tingkat pendapatan orang
tua. Jadi walaupun orang tuanya bukan berlatar pendidikan universitas, tetapi
memiliki kesadaran akan pentingnya membaca buku, maka akan mencetak anak-anak
yang lebih berprestasi dibandingkan dengan anak-anak yang orang tuanya memiliki
latar belakang pendidikan dari universitas dan memiliki penghasilan baik tetapi
belum memiliki kesadaran akan pentingnya menumbuhkan minat membaca pada anak.
Oleh
karena itu, peran orang tua dan guru lah yang harus mendukung anak-anak agar
sejak mereka usia dini sudah dibantu untuk menumbuhkan minat membacanya.
Sehingga anak bukan hanya sekedar bisa membaca , tetapi juga tumbuh menjadi
anak yang gemar membaca.
Yang
perlu kita ingat bahwa gemar membaca berbeda dengan bisa membaca. Anak yang
bisa membaca belum tentu gemar membaca. Begitu pula anak yang gemar membaca,
belum tentu sudah bisa membaca. Tetapi anak yang gemar membaca memiliki minat
dan motivasi intrinsik untuk bisa membaca. Dengan demikian hanya dengan sudah
bisa membaca saja belum cukup untuk membuat anak cerdas. Tetapi jika anak sudah
gemar untuk membaca buku, maka dengan sendirinya anak akan senang belajar.
Karena apa? karena buku dapat merangsang anak untuk mempelajari sesuatu yang
baru. Sehingga rasa ingin tahu anak akan berkembang, dan anak selalu ingin tahu
lebih banyak hal yang lainnya lagi. Hal ini menjadi salah satu faktor yang
membantu anak untuk tumbuh sebagai anak cerdas sesuai impian para orang tua dan
guru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar